Pidato SBY Bocor

Posted by do it your self Rabu, 11 April 2012 0 komentar

Rekaman pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pasca pengambilan keputusan di paripurna DPR terhadap kenaikan harga BBM beredar di kalangan wartawan. Berdasar isi pidato itu, tergambar adanya ketidakpercayaan SBY terhadap beberapa partai anggota koalisi dalam menyikapi rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM.

Pidato tersebut disampaikan SBY secara tertutup di hadapan kader Partai Demokrat di Kantor DPP Partai Demokrat pada 1 April. Saat itu SBY bercerita tentang lika-liku perjalanan politik menjelang pengambilan keputusan kebijakan yang tertuang dalam salah satu bagian pengesahan RUU RAPBN Perubahan 2012. Yaitu, dimulai dari pertemuan dengan para ketua umum parpol koalisi pada sekitar pertengahan Maret.

”Semuanya seolah-olah kompak, bersatu, sama posisi. Meskipun saya juga sudah punya pengalaman yang panjang,” kata SBY, disambut tawa para hadirin, seperti yang ada dalam rekaman pidato.

Menurut SBY, kekhawatirannya sejak awal itu sudah mulai terbukti hanya beberapa hari setelah pertemuan. Sikap sejumlah partai mulai berubah-ubah lagi terkait dengan rencana kenaikan harga BBM. ”Kemudian, saya telepon lagi beberapa di antaranya, oke lagi, tapi setelah tiga hari, berubah lagi,” ucap SBY dengan intonasi tenang.

Tidak berhenti di situ. Kekecewaan sekaligus ketidakpercayaan SBY terhadap sejumlah partai anggota koalisi diungkapkan lagi saat menceritakan dinamika politik selanjutnya. Yaitu, ketika SBY baru saja pulang dari kunjungan kenegaraan ke Beijing, Tiongkok, dan Seoul, Korsel, pada 29 Maret. ”Saya makin tahu bahwa sebenarnya sebagian dari koalisi kita, bukan hanya satu partai, sebagian dari partai koalisi kita masih ada agenda-agenda tersembunyi. Ada agenda yang lain,” ucap SBY.

Dia lantas menyindir beberapa partai di koalisi yang setuju kenaikan harga BBM namun menolak rencana program bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM). ”Ada juga setuju BBM naik, tapi tidak setuju membantu rakyat miskin, sama saja (dengan menolak kenaikan BBM),” ungkap SBY.

Sebab, lanjut SBY, menaikkan harga BBM tanpa diberi ruang melalui UU untuk memberikan bantuan sama saja dengan membiarkan munculnya kemarahan rakyat. ”Kemudian,  pemerintah akan dituntut dan akan jatuh juga. Itu semua silat lidah, talk show-nya ke sana kemari, tapi intinya pemerintah diharapkan jatuh secepat-cepatnya,” tandasnya.

Secara garis besar, ada enam poin dalam pidato SBY tersebut. Pertama, SBY menyebut PKS sebagai partai anggota koalisi yang kerap berbeda pandangan dengan program pemerintah. Kedua, sikap Golkar yang dianggap tidak konsisten dan selalu berubah-ubah. Ketiga, sindiran terhadap partai yang ketua umumnya pernah menjadi presiden dan pernah menaikkan BBM, tapi tidak tahu skema kenaikan BBM.

Keempat, kenaikan harga BBM sebagai momentum untuk menjatuhkan pemerintahan SBY. Kelima, mematahkan klaim Partai Golkar sebagai pengusung utama opsi kedua, yakni selisih harga ICP 15 persen dalam rata-rata waktu enam bulan (padahal, ide tersebut berasal dari SBY). Keenam, marah atas tindakan pimpinan kepala daerah (bupati dan wali kota) yang ikut berunjuk rasa menolak kenaikan BBM dan meyebut mereka pemberontak.
Sumber : Fajar.co.id

0 komentar:

Poskan Komentar